Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf lahir dan Bathin.


Home / Kajian Fiqih / RUWATAN ritual untuk menghilangkan kesialan

RUWATAN ritual untuk menghilangkan kesialan

RUWATAN

Ruwatan

Ruwatan adalah ritual untuk menghilangkan kesialan. Pada mulanya ruwatan dilakukan bagi orang-orang yang dianggap menyandang susukerto (nasib kurang baik sejak lahir). Ritual ini dilakukan dengan berbagai cara, semisal dengan pementasan wayang dengan lakon Porwokolo (pertarungan antara titisan Wisnu dengan Bethorokolo) yang disertai dengan sesajen tertentu dan di puncak acara Sang Dalang memandikan sukerto (orang yang menyandang sial). Dalam adat kejawen ruwatan juga menjadi suatu keharusan bagi sendang kapit pancuran (seorang perempuan yang beradik kakak laki-laki) dan pancuran ngapit sendang (seorang laki-laki yang beradik kakak perempuan).

Pada dasarnya keberuntungan dan kesialan seseorang telah digariskan oleh Allâh SWT. Sebelum dilahirkan. rizki, umur, keberuntungan dan kesialan setiap orang telah ditentukan. Kendati begitu, ia tetap diberi keleluasaan untuk berupaya ‘mengubah’ takdirnya dengan usaha lahir dan doa. Nabi Muhammad SAW bersabda;

 “Siapa saja yang senang dilapangkan rizkinya dan ditunda ajalnya maka sambunglah tali persaudaraan.” (HR. Bukhâri )

Hadîts di atas menjadi bukti bahwa Allâh SWT memberi kesempatan pada hambaNya untuk berusaha melapangkan rizki dan memanjangkan umurnya yang menjadi bagian dari takdirnya. Setidaknya ada kesamaan misi antara tradisi ruwatan dan tuntunan Nabi SAW dalam semangat mencari keberuntungan dan menghindari kesialan bagi setiap orang. Hanya saja semestinya ruwatan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang telah anjurkan oleh Nabi SAW dengan memperbanyak doa, sedekah, silaturrahim dan amal shaleh lainnya sebagaimana firman Allâh SWT;

 “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dalam ayat tersebut Allâh SWT memperkenankan hambaNya untuk kembali mengurusi kebutuhan duniawinya yang untuk sementara waktu tidak diperkenankan, kecuali setelah selesai melaksanakan kewajiban shalat Jum’at. Selain itu Allâh SWT memerintahkan mereka pula agar senantiasa berdzikir agar mendapatkan keberuntungan.[1] Oleh karenanya, kepecayaan tentang bertubi-tubinya kesialan bila tidak melakukan ruwatan harus dihindari. Sebab, kesialan yang dialami bukanlah akibat dari tindakannya meninggalkan ruwatan, namun bisa jadi merupakan balasan dari prasangka buruk seseorang atas takdir yang telah Allâh SWT gariskan.[2] Sebagaimana sabda Nabi SAW;

 “(Sebenarnya) tidak ada thiyarah (tanda kesialan) dan tanda kesialan itu (hanya menjadi) bahaya bagi orang yang membenarkannya.” (HR. Ibn Hibbân)

 

[1]  Fakhr ar-Râzi, op. cit. Juz X, hlm. 554-555.

[2]  Muhammad ‘Ali Ibn Husain al-Makki al-Mâliki, op. cit., Juz IV, hlm. 259-260.

 

Dikutip dari Buletin Aswaja NU Kota Kediri edisi 6

About admin

Check Also

KAPOLRES KEDIRI KOTA SILATURRAHIM DAN HALAL BI HALAL BERSAMA WARGA NU

nukotakediri: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri menggelar Halal bi Halal Keluarga Besar Nahdlatul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *