Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf lahir dan Bathin.


Home / Kajian Fiqih / KAJIAN FIQIH : ADAT SEPUTAR KEMATIAN

KAJIAN FIQIH : ADAT SEPUTAR KEMATIAN

ADAT SEPUTAR KEMATIAN

10373773_642560242503293_3211599635313517213_n_2

 Sebagai bangsa yang kaya akan budaya, masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam tradisi dalam setiap momentum. Diantaranya, tradisi masyarakat yang berkaitan dengan kematian. Uniknya, meskipun tradisi tersebut merupakan warisan nenek moyang, namun sebenarnya di dalamnya juga tersirat nilai-nilai Islami dan tak lepas dari aturan agama Islam. Hal ini tidak lain adalah karena peran para wali yang mengantarkan Islam menuju negeri ini. Dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan, para ulama telah memasukkan nilai-nilai Islam dalam tradisi dan budaya nenek moyang yang diwariskan kepada kita.

Berikut ini beberapa tradisi dan budaya seputar kematian beserta penjelasan hukumnya.

POLES KAPUR PUTIH

Poles kapur putih adalah ritual menghindari musibah yang dilakukan sebagian masyarakat Madura pasca kematian tetangganya, yaitu dengan memolesi telinga mereka memakai kapur atau pewarna lain yang berwarna putih. Dengan melakukan ritual ini mereka meyakini akan terhindar dari susulan musibah lain setelah kematian tetangganya.

Tradisi tersebut seperti halnya tradisi melewati barisan kambing karena khawatir tidak akan terpenuhinya suatu hajat dan tradisi semisalnya yang pada hakikatnya tidak membahayakan. Oleh sebab itu, kekhawatiran yang ada pada tradisi tersebut termasuk tegolong thiyarah (tindakan yang berdasarkan prasangka buruk) yang tidak diperbolehkan. Bisa jadi musibah yang dikahawatirkan akan benar-benar terjadi dikarenakan prasangka buruk mereka.

Dikisahkan ada seseorang yang telah melakukan ritual adat tertentu ternyata masih mengalami kesialan, sedangkan orang lain yang tidak melakukannya justru selamat. Karena merasa ada hal yang kurang beres ini pada akhirnya ia menanyakannya kepada salah seorang ulama, apakah kejadian yang dialaminya tersebut memang ada dalilnya? Lalu ulama tersebut mengiyakan dengan menyitir sepenggal Hadîts Qudsî;

“Aku (Allâh) selaras dengan prasangka hambaku, maka berprasangkalah padaku dengan apa yang ia mau.” (HR. Hâkim, Ibn Hibbân dan Ahmad)

Karena Si Penanya terlanjur berprasangka buruk akan mengalami kesialan bila tidak melakukan ritual adat, maka pada saat itu sebenarnya ia telah berprasangka buruk pula pada Allâh SWT. Oleh sebab itu, meskipun telah melakukan ritual adat tersebut ia tetap mengalami kesialan sebagai balasan dari prasangka buruknya. Sementara orang lain yang tidak melakukannya justru selamat karena tidak berprasangka buruk.[1]

Kendati begitu, dalam menyikapinya tentu harus dengan cara-cara yang bijak dan tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat, sesuai dengan metode amr ma’rûf nahî munkar yang dianjurkan.

SORTANA

Sortana adalah tradisi pemberian harta seseorang pasca sepeninggalannya (sebelum pembagian warisan) kepada orang-orang yang menangani jenazahnya, seperti orang yang memandikannya, penggali kubur, pembaca talqîn dan lain sebagainya. Di sebagian daerah Madura pada umumnya yang diberikan adalah barang pecah belah semisal piring, gelas dan lain sebaginya. Sementara di daerah jember yang diberikan adalah pakaiannya.

Bila kita merujuk pada madzhab Syâfi’iyah, maka tradisi tersebut bisa dibenarkan dengan syarat tidak ada ahli waris yang yang mahjûralaih (tidak diperkenankan membelanjakan harta), seperti anak kecil, orang gila dan semisalnya, serta kerelaan  semua ahli waris atau dengan wasiat dari mayit sebelum meninggalnya selama nilai sortana yang diberikan tidak melebihi 1/3 (sepertiga) harta warisannya. Sementara bila mengikuti para ulama madzhab Mâlikiyah, selam sortana tersebut tidak melebihi 1/3 (sepertiga) harta warisan maka diperbolehkan, mengingat menurut mereka adat masyarakat dinilai sepadan dengan wasiat Si Mayit.[2]

TABUR BUNGA, BERAS KUNING DAN UANG RECEH

Sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa, saat pemberangkatan jenazah ke pemakaman sering disertai dengan penaburan bunga, beras kuning dan uang receh di sepanjang jalan. Di sebagian daerah tradisi penyebaran uang receh ada pula yang sudah berhasil dialihkan dengan bersedekah uang ala kadarnya bagi para penta’ziyah yang sempat menshalati jenazah, kendati tradisi tabur bunga ataupun beras kuning masih dilakukan.

Bagaimanapun juga tradisi tersebut meski disikapi secara bijak. Tradisi tersebut bisa saja dilestarikan asalkan terdapat sasaran yang jelas. Tabur uang receh bisa diniati bersedekah atau agar diambil anak-anak kecil unuk membuat mereka gembira dengan harapan mendapatkan balasan ampunan atas dosa-dosa mayit dan keluarganya.[3] Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Sungguh yang termasuk mendatangkan ampunan adalah membuat gembira saudara muslimmu.”

Meskipun sanad Hadîts ini dha’îf  namun bisa diamalkan dalam fadhâilul a’mâl.[4]

Tabur beras bisa dilakukan dengan niat memberi makan hewan semisal ayam, burung dan yang lainnya dengan harapan mendapat pahala yang setimpal dengan pahala sedekah. Dalam sepenggal Hadîts shahîh Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Siapa saja menanam tanaman (bebijian semisal padi) kemudian dimakan burung atau hewan pencari rizki lainnya maka ia mendapatkan (pahala yang setimpal dengan pahala) sedekah.” (HR. Ibn Khuzaimah)

Sementara tradisi tabur bunga bisa dilakukan di pemakaman (ditaburkan di atas pusara) dengan harapan selama masih segar bunga itu dapat memohonkan keringanan siksa bagi mayit, dalam salah satu Hadîts diriwayatkan;

“Dari Ibn Abbas RA, dari Nabi SAW, sungguh beliau melewati dua kuburan yang (kedua penghuninya) disiksa. Lalu beliau Nabi SAW bersabda; “sungguh mereka berdua disiksa dan tidaklah mereka disiksa karena dosa besar (menurut mereka). Salah satunya tidak menggunakan penutup di saat kencing, sementara yang lainnya sering mengadu domba.” Lalu Nabi SAW  mengambil sebatang pelapah kurma yang masih segar dan membelahnya menjadi dua. Kemudian setiap kuburan ditancapinya satu pelepah. Para sahabat bertanya; “mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullâh? “Nabi SAW menjawab; semoga mereka diringankan siksanya selama kedua pelepah kurma ini belum kering.” (HR. Bukhâri )    

Bahkan bila bunga yang ditaburkan beraroma wangi maka bisa pula diniati menghormati malaikat yang mendata-nginya.[5] Bila tradisi ini dibiarkan begitu saja dan masyarakat tetap menaburkan bunga di sepanjang jalan menuju pemaka-man, berarti telah terjadi penyia-nyiaan harta yang tentunya tidak diperkenankan.[6]

[1] Muhammad ‘Ali Ibn Husain al-Makki al-Mâliki, op.cit., Juz IV, hlm 259-260.

[2] Ibrâhîm al-Bâjûri, loc. cit.

[3] Muhammad asy-Syirbini al-Khatîb, op. cit., Juz IV, hlm. 411.

[4] Al-Haitsami, op. cit., Juz VIII, hlm. 194.

[5] Sulaimân al-Bujairami, op. cit., Juz II, hlm. 300.

[6] Sulaimân al-Jamal, op. cit., Juz II, hlm. 200.

Dikutip dari Buletin Aswaja NU Edisi 4

About admin

Check Also

KAPOLRES KEDIRI KOTA SILATURRAHIM DAN HALAL BI HALAL BERSAMA WARGA NU

nukotakediri: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri menggelar Halal bi Halal Keluarga Besar Nahdlatul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *