Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Kediri menghimbau kepada warga NU Kota Kediri untuk senantiasa menjaga kesehatan, Mematuhi Intruksi, himbauan, dan protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Social distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama serta Memperbanyak doa dan amaliyah sebagaimana intruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera


Breaking News
Home / Kajian Fiqih / shalat dengan memakai mukena tipis

shalat dengan memakai mukena tipis

LOGO LBM PP. LIRBOYO

Soal           :  Bagaimanakah hukum melaksanakan shalat dengan memakai mukena yang tipis?

Jawaban   :  Salah satu syarat sah melaksanakan shalat adalah menutup aurat. Bagi lelaki, aurat adalah anggota tubuh di antara pusar dan lutut. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh anggota tubuh selain wajah dan telapak tangan. Kewajiban menutup aurat dapat terpenuhi dengan menggunakan kain atau benda lain yang dapat menutupi warna kulit aurat dari pandangan mata, dalam jarak yang sedang, yakni jarak antara dua orang ketika saling berbicara (majlis takhotub).

Dengan demikian, melaksanakan shalat dengan memakai mukena yang tipis, hukumnya tidak sah warna kulit aurat masih dapat terlihat oleh mata dari jarak yang sedang.

Soal           :  Bagaimana hukum melaksanakan shalat dengan memaki baju yang ketat?

Jawaban   :  Hukum shalat yang dilaksanakan dengan memakai baju ketat adalah sah. Asalkan baju yang dipakainya sudah bisa menutupi warna kulit, meskipun lekukan tubuh masih dapat tergambar dengan jelas. Namun demikian, hukumnya makruh memakai baju ketat bagi wanita, dan khilaful aula (kurang baik) bagi pria. Bahkan, bila dikhawatirkan dapat mengundang nafsu syahwat orang yang memandang (selain suami dan mahram), maka hukum memakai baju ketat adalah haram.

Referensi:   al-Iqna’ Fi Halli Alfadh Abi Syuja’

Asna al-Mathalib Fi Syarh Raudl ath-Thalib

*Buletin Aswaja NU Kota Kediri Edisi 1

About admin

Check Also

MANÂQIBAN : Legalitas, dalil al-Qurân dan Hadîts

MANÂQIBAN Selain manâqib Syaikh ‘Abdul Qadîr al-Jîlâni yang paling populer, terdapat pula manâqib-manâqib lain yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *